Osaka, 8 Januari 1995
Seorang gadis berjalan dengan kaki yang gemetaran. Mengingat di Osaka pada waktu ini telah mengalami fubuki atau badai salju. Namun tak sedahsyat di Hokkaido di mana wilayahnya sangat dekat dengan Siberia dan Rusia yang juga terkenal dengan dinginnya udara. Orang-orang yang berjalan di wilayah Dotonburi (pusat keramaian terkenal di Osaka, Jepang) terheran-heran karena penampilan sang gadis yang sangat berbeda. Fashion yang dipaparkannya jelas berbeda dengan banyak orang di era 90-an.
Tanpa diketahui siapapun, sang gadis rupanya sedang mencari asal-usul sang ayah yang entah di mana batang hidungnya. Dan tanpa diketahui seorangpun juga, ia datang dari tahun 2015. Ya, dari masa depan! Ia datang ke tahun 1995 untuk memberikan nasihat kepada ayahnya pada masa itu untuk menghargai ibunya. Yang ia tahu bahwa sang ayah seorang pria Indonesia dan sang ibu dari Jepang. Sebenarnya apa inti problemanya? Yang jelas Rion Megami Soekarta -sang gadis itu- tergesa-gesa ingin pergi ke stasiun menuju bandara Narita, Tokyo untuk menginjakkan kakinya di tanah kelahiran sang ayah, Indonesia. Dengan tekadnya meski berbekal album foto keluarga.
**********
Jakarta, 20 Januari 1995
"DICKY!! Ayo cepat! Loe mau telat masuk kelas pagi ini, hah?!"
Seorang pria dua puluh tahunan mendesah gusar karena kebiasaan sepupunya yang suka terlambat. Rangga Dewamoela Soekarta, pria yang tadi berteriak itu sekali-kali melirik jam tangannya. Karena terlalu lama menunggu sepupunya -Dicky Prasetya-, ia langsung membuka pintu mobil dan segera masuk. Dicky baru muncul saat Rangga hendak menutup pintu mobilnya. Mengetahui ia akan ditinggal oleh Rangga, Dicky segera masuk ke dalam mobil sepupunya.
"Lama banget! Satu jam baru rapi. Ckckckck!" cibir Rangga sambil menatap Dicky dengan sinis. Sambil melemparkan tas ke jok belakang, Dicky membalas, "Sekali-kali sabar. Sedikit aja." "Ck! Gue udah sabar, loe yang kelamaan. Udah deh, ke kampus sekarang," gusar Rangga lalu menyalakan mobilnya dan segera pergi ke kampus.
########
Di halaman kampus fakultas hukum, mobil yang membawa Dicky dan Rangga berhenti di sana. Mereka pun berlari menuju ke kelas karena sebentar lagi kelas mereka akan dimulai. Di saat berlari mereka saling tuding-menuding penyebab terjepitnya waktu.
"Loe yang lama bercermin!"
"Gue gak lama rapiin pakaian gue. Loe yang gak sabaran tungguin gue!"
"Loe penyebabnya!"
"Loe!"
"Loe!"
Saat sampai di kelas, mereka pun berhenti menuduh satu sama lain dan segera masuk ke kelas karena sang dosen belum masuk. Sang dosen baru tiba saat mereka sudah menduduki bangkunya masing-masing. Semua mahasiswa, termasuk Rangga dan Dicky, terpana dengan seorang gadis yang berjalan di belakang dosen. "Selamat pagi!" sapa sang dosen. Para mahasiswa pun membalas sapaan dosen mereka. "Hari ini kelas kita kedatangan mahasiswi baru dari Jepang. Wanita muda, perkenalkan dirimu."
Gadis blasteran Indonesia-Jepang itu sempat gugup dan akhirnya memperkenalkan dirinya. "Selamat pagi! Nama saya Rion Megami. Saya berasal dari Osaka, Jepang. Senang bertemu dengan kalian." Bahasa Indonesianya tanpa cela meski terkesan formal. Lalu ia membungkukkan badannya. Perkenalannya disambut baik. "Baiklah, kamu duduk di bangku yang kosong di sana," kata sang dosen sambil menunjukkan bangku yang dimaksud. Rion berjalan dan akhirnya berhenti di bangkunya. Rangga yang duduk di sebelahnya tak pernah berhenti menatapnya. Sedangkan Dicky yang berada di belakang Rangga tahu apa yang dialami oleh sang sepupu.
"Hello! Gue Rangga." Ia menyapa kepada Rion yang ada di sampingnya. Rion tidak mengerti apa yang dikatakan Rangga karena kosakatanya terlalu menyimpang menurut Rion. Mengetahui ketidakmengertiannya, Rangga segera meralat sapaannya. "Halo! Aku Rangga." Tak lama Rion menundukkan kepalanya dan membalas sapaannya. "Halo juga. Kamu teman pertamaku di sini." "Terima kasih. Senang bisa berteman denganmu."
Tiba-tiba Rion menyadari sosok Rangga begitu mirip dengan...
**********
Jakarta, 27 Januari 1995
Di kafe, Rangga dan Rion sedang duduk di salah satu meja dekat jendela di kafe. "Baru satu minggu, aku sudah merasa nyaman bersamamu, Rangga," ujar Rion sambil menatap Rangga. Ya, baru seminggu Rion dan Rangga sudah akrab. Rangga merasa sosok Rion lebih menyenangkan daripada sosok sang kekasih, Megumi Nishinaga, yang berasal Jepang (juga). Sedangkan Rion berusaha mengetahui apa ada kemiripan antara sosok Rangga dengan sosok sang ayah saat masih muda. "Iya. Aku juga berpikir seperti itu. Jujur, kamu sangat menyenangkan. Tidak seperti pacarku," tanggap Rangga. "Pacar? Maksudnya kekasih?!" Rion bingung. "Iya, kekasih. Dia dari Jepang. Terkesan kaku," secara tak langsung Rangga telah mencibir Megumi.
"Aku tidak seperti itu, Rangga. Aku terlalu pemalu," kata Rion mencibir dirinya sendiri. "Tidak. Setidaknya kamu sangat menyenangkan di mataku," rayu Rangga lalu mencolek dagu Rion. "Sudahlah, jangan merayuku. Apa kamu tak takut kekasihmu mengetahui ini?" risih Rion lalu menyesap kopinya.
"Jika mau, apa kamu ingin menemaniku ke bioskop lusa? Ada film terbaru yang ingin ku tonton," ajak Rangga kepada Rion. Rion berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya pertanda mau.
**********
Jakarta, 29 Januari 1995
Di bioskop...
Rangga dan Rion menonton salah satu film horor. Terkadang Rion menjerit dan memeluk Rangga saat menonton. Rangga tertawa kecil melihat ketakutan Rion. Namun Rion tetap melihatnya sampai film itu berakhir.
Setelah film tersebut berakhir, Rion sempat memarahi Rangga. "Mengapa kita menonton film seperti itu tadi? Aku tidak suka film horor, kamu tahu?" "Iya, iya. Maaf Rion. Aku tak tahu kamu tak suka horor," sesal Rangga lalu membelai puncak kepala Rion. Rion menyadari ada kejanggalan di hubungan pertemanannya dengan Rangga. Apa Rangga mulai jatuh cinta padanya? Dan berpaling dari sang gadis yang masih memiliki hubungan dengan Rangga?
**********
Jakarta, 10 Februari 1995
Seiring berjalannya waktu, Rangga menyadari bahwa ia telah jatuh cinta kepada Rion. Tapi ia juga sadar akan nasib Megumi Nishinaga yang ternyata telah mengandung anaknya selama 9 minggu. Ia tahu perbuatan konyolnya itu yang menjadi penyebab kehamilan Megumi. Rangga tahu perbuatannya sangat tabu karena ia dan Megumi belum menikah. Megumi akan tiba di Jakarta dua jam kemudian. Rangga hanya mendesah penuh penyesalan. Namun Rangga tak tahu dan tak pernah tahu jikalau Rion adalah anak yang dikandung di dalam rahim Megumi. Miris!
#########
Sementara misi Rion untuk menemui sang ayah di tahun 1995 sudah menemui titik terang. Sebenarnya ia sudah menemui sosoknya yang ternyata adalah seseorang yang dekat dengannya selama sebulan terakhir. Ya, Rangga Dewamoela Soekarta. Rangga-lah yang telah akrab dengannya, anaknya dari masa depan. Rion juga telah mengetahui pertemuan antara Megumi Nishinaga dan Rangga. Megumi telah memberitahu kepadanya kemarin. Dan lagi, ya, Megumi Nishinaga adalah sang ibu yang akan melahirkannya ke dunia. Rion ada di dunia ini karena kekhilafan ayahnya yang telah menghamili ibunya sebelum melakukan pernikahan. Sama mirisnya!
#########
Di malam hari, Rangga rehat sejenak di atas kursi di teras rumah Megumi (rumah di Jakarta). Ia tak tahu harus lakukan apa lagi selain menikahi Megumi. Sementara ia harus mengutarakan perasaannya kepada Rion. Megumi baru saja keluar menuju teras dan berhenti di ambang pintu depan rumahnya. Mengetahui Rangga belum pulang, ia ingin berbicara kepada kekasihnya. Dengan pandangan yang teduh, ia menyatakan penyesalannya.
"Maafkan aku, Rangga. Aku sudah membuatmu terbebani. Tidak apa-apa kalau kamu membenciku. Karena aku, kamu tidak dapat menggapai mimpimu." Seperti Rion, bahasa Indonesia Megumi tanpa cela. Megumi telah lama tinggal di Indonesia karena pekerjaan sang ayah sebagai seorang diplomat.
Menyadari keberadaan Megumi, Rangga menatapnya dengan sesal. Rangga mengusap kasar mukanya lalu menanggapi penyesalan kekasihnya. "Iya. Seharusnya aku membencimu. Kamu membuat hidupku hancur. Sampai kapanpun aku tak akan pernah menganggapmu lagi. Apalagi anak yang kamu kandung. Aku tak sudi punya anak seperti itu. Walaupun aku tahu itu kesalahanku, tapi aku tak akan pernah mengakui dirimu sebagai istriku kelak. Camkan itu!" Megumi tak bisa menahan tangisnya saat mengetahui Rangga tak akan menghargainya lagi.
Tiba-tiba Rion muncul di depan rumah Megumi. Seakan tahu akan maksud kedatangan Rion, Megumi masuk ke dalam rumahnya. Rangga bangkit dari kursi dan memeluk Rion. "Rion. Apa kamu tahu hal ini?" tanya Rangga, takut jika Rion sudah tahu. "Rangga, terima kasih untuk satu bulan ini. Aku tahu apa yang sedang kamu alami," Rion membalas pelukannya. "Ada yang ingin ku katakan padamu, Rangga. Tapi aku mohon jangan marah," lanjut Rion lalu meminta sesuatu. Rangga merasa bahwa pertemuannya dan Rion kali ini adalah yang terakhir kalinya.
"Iya, aku tak akan marah. Tapi, Rion... Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku... aku... Aku sangat mencintaimu." Rangga pun mengakuinya. Rion menggelengkan kepala. Tak lama ia melepaskan pelukannya dan memberikan 'jarak' kepada Rangga. "Kamu tak boleh mencintaiku, Rangga. Kamu tak pantas mencintaiku," sergahnya. Rangga heran mendengar penolakan tersebut. Ada apa ini?
"Karena... Karena... Ka... ren... na..." ucap Rion terbata-bata karena menahan tangisnya. "Karena apa?" potong Rangga. Rion menghela nafas sejenak lalu melanjutkan perkataannya. "Karena aku adalah anakmu. Anakmu dari masa depan." Rangga tak percaya dengan apa yang dikatakan Rion tadi. "Kamu bercanda kan?"
Rion segera menyodorkan album foto yang ia bawa kepada Rangga. "Kamu tak yakin? Lihat saja sendiri!" Rangga meraih album foto itu dan membukanya satu per satu. Ia terperanjat kaget karena ada sosok pria yang mirip dengannya. Ya, sosok itu adalah dia. Dan sosok wanita tersebut adalah Megumi, calon istrinya. Dan sosok anak kecil yang diyakininya adalah Rion, anaknya. Kalau boleh ia berkata jujur, ia masih tidak percaya. Ia mencintai anaknya. Calon anak di masa depan tepatnya.
"Sekarang apakah kamu percaya kalau kaulah ayahku?" tanya Rion penuh harap. Air mata pertama telah jatuh ke pipi pria yang dihadapan Rion. Rangga memeluk Rion sekali lagi sambil menangis. "Ayah, aku datang ke sini meminta ayah untuk menghargai ibu dan aku. Biar bagaimanapun, ini kesalahan ayah. Ayah harus mencintai ibu. Ibu tulus mencintai ayah. Maafkan ibu, ayah. Sebelum bertemu dengan ayah, aku sudah bertemu dengan ibu. Ibu berharap ayah akan merawat ibu dengan baik meski ayah sudah menodainya sebelum ayah menikahi ibu."
Rangga melepas pelukannya lalu mengusap air matanya. Ia mengusap bahu Rion. "Iya. Ayah janji. Bukan, ayah akan buktikan padamu. Meski mungkin jalan masa depan ibu dan ayah akan berubah dan kamu bukan bagian dari kami. Ayah buktikan nanti." Rion tersenyum melihat kesungguhan Rangga yang akan merawat Megumi sebaik mungkin. Tiba-tiba Megumi kembali keluar. Megumi juga tersenyum karena Rangga telah menghargainya lagi. Megumi menatap anaknya dari masa depan, Rion. "Terima kasih karena sudah menyadari ayahmu. Ibu bangga padamu." "Iya, bu. Ayah, Ibu. Aku harus kembali ke masa depan. Maafkan aku jikalau aku tak akan pernah kembali lagi di hidup kalian. Selamat tinggal."
Tak lama Rion menghilang dari pandangan Megumi dan Rangga. Album foto yang dibawa Rion juga tiba-tiba menghilang. Rangga menyadari ketulusan Megumi setelah kepergian Rion ke masa depan. Walaupun begitu ia masih mengharapkan Rion kembali. Sedangkan Megumi merasa lega karena Rangga tak akan meninggalkannya.
'Bolehkah aku mengulangi harapanku yang selalu sama? Yang aku harapkan itu-itu saja? Aku tak punya harapan lagi selain itu.'